Cut Nyak Dhien

Posted By: Heru. W (Indigo FC)

Cut Nyak Dhien dilahirkan di Lampadang 1948. ia berasal dari . Ayahnya bernama Teuku Nanta Setia, keturunan Machmoed Sati. Sejak kecil Cut Nyak Dhien sudah dikenalkan dengan ajaran agama dari orang tua, dan guru beliau.Dan Pada usia 12 tahun beliau dinikahkan dengan Teuku Cek Ibrahim Lamnga, putera dari seorang uleebalang. Dari hasil pernikahan tersebut, mereka dikaruniai seorang anak laki-laki yang bernama Cut Gambang.
Pada tahun 1873, tepatnya tanggal 23 Maret belanda menyerang aceh, peristiwa ini dikenal dengan sebutan “Perang Aceh”. Pasukan aceh dipimpin oleh Panglima Polim dan Sultan Machmud Syah melawan Belanda yang beranggotakan 3.198 prajurit serta dilengkapi dengan pesenjataan yang memadai.
Pada tahun 1873 belanda mendarat di Pantai Ceureumen, dibawah pimpinan Kohler, Belanda dapat menguasai Masjid Raya Baiturrohman serta membakarnya. Kafir Biadab.(red)
Melihat peristiwa pembakaran masjid oleh Belanda, yang merupakan tempat ibadat umat Islam yang mereka sucikan dan agungkan, Cut Nyak Dhien mengambil peran dalam membakar semangat warga aceh pada sa’at itu untuk bersatu dan melawan Belanda,
“Lihatlah wahai orang-orang Aceh!! Tempat ibadat kita dirusak!! Mereka telah mencorengkan nama Alloh! Sampai kapan kita begini? Sampai kapan kita akan menjadi budak Belanda”
Pertempuran perlawanan terhadap penjajah pun terus berkobar. Ibrahim Lamnga (Suami Beliau Yang Pertama), yang bertempur di garis depan membawa kemenangan untuk kesultanan Aceh.
Setelah Wafatnya Teuku Umar (Suami beliau yang ke dua setelah wafatnya Ibrahim Lamnga), Beliau bersama pasukannya melanjutkan perlawanan terhadap Belanda dengan bertempur di pedalaman Meulaboh menggunakan taktik gerilya, namun karna sulitnya untuk mendapatkan makanan untuk pasukannya serta umur beliau yang sudah semakin tua. Hal ini membuat iba pasukannya, sehingga salah seorang pasukannya yang bernama Pang Loat Ali, malporkan keberadaan cut Nyak Dhien dan pasukannnya kepada Belanda. Cut Nyak Dhien tertangkap dan diasingkan ke Sumedang, kemudian pada tanggal 6 Nopember 1908 beliaupun wafat dan dimakamkan di gunung puyuh, sumedang.

No comments:

Powered by Blogger.