AMBISI MENJADI PEMIMPIN

Para ulama menyatakan bahwa hikmah tidak diberikannya pengurusan / pimpinan kepada orang yang memintanya bahwasanya ia (yang minta) – jika sudah jadi pemimpin – tentunya kepemimpinannya akan menjadi beban bagi dirinya dan ia tidak akan mendapat pertolongan. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam hadits riwayat Abdurrahman bin Samurah di atas. Dan jika seseorang sudah mempunyai pertolongan / bantuan, niscaya dia akan mampu bebuat banyak, padahal untuk menjadi seorang pemimpin, harus mempunyai banyak kecakapan karena banyak hal yang harus dikerjakan.
Hal tersebut sebagaimana tertera pada hadits pertama, kedua dan ketiga di atas. Pada hadits pertama, bahkan Rasulullah SAW sampai bersumpah "Demi Allah", beliau tidak akan memberikan kekuasaan pada orang yang meminta atau sangat menginginkannya.
Kemudian pada hadits yang ketiga, diakhir matan disebutkan bahwa seseorang yang mendapatkan kepemimpinan tidak dengan jalan meminta, maka ia akan dibantu oleh malaikat dalam menyelesaikan segala urusan kepemimpinannya. Secara logika ini juga bisa dinalar, bahwa orang tersebut tidak terlalu mempunyai beban, sehingga lebih besar kemungkinan ia dapat berpikir dengan jernih.
Hadits keempat, menyatakan bahwa memang sifat dasar manusia itu selalu ingin berkuasa. Akan tetapi kekuasaan itu akan membuat menyesal kelak di hari kiamat, ini bagi seorang pemimpin yang tidak menjalankan kepemimpinannya sebagaiamana mestinya. Hal ini diperjelas oleh sebuah riwayat yang dikeluarkan oleh Al-Thabrani dan Al-Baraz dari haditsnya Auf bin Malik dengan sanad yang shahih.

أَوَّلُهَا مَلاَمَةٌ وَثَانِيْهَا نَدَامَةٌ وَثاَلِثُهَا عَذَابٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِلاَّ مِنْ عَدْلٍ
Bahwa yang pertama terdapat dalam kepemimpinan itu adalah celaan, yang kedua adalah penyesalan dan yang ketiga adalah siksaan pada hari kiamat kecuali bagi pemimpin yang adil.

Hal senada juga diungkap dalam sebuah riwayat dari Abu Hurairah:
أَوَّلُهَا نَدَامَةٌ وَثَانِيْهَا غَرَامَةٌ وَثاَلِثُهَا عَذَابٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
Bahwa yang pertama terdapat dalam kepemimpinan itu adalah penyesalan, yang kedua adalah kemiskinan dan yang ketiga adalah siksaan pada hari kiamat.

Dan banyak lagi hadits yang meriwayatkan tentang hal-hal jelek yang ada dalam sebuah kepemimpinan.
Namun demikian, tidak semua ambisi untuk menjadi pemimpin itu jelek. Sebagaimana tertera pada hadits kelima, disana juga ada unsure positif yang seakan-akan dianjurkan untuk berambisi menjadi pemimpin dan dijanjikan surga sebagai gantinya, tapi dengan catatan bahwa keadilannya dapat mengalahkan kedzalimannya.
Hal itu memang dianjurkan, hanya saja kalau memang ternyata di tengah-tengah masyarakat diras tidak ada yang mampu, sedangkan kekuasaan itu ada kemungkinan besar jatuh kepada orang yang bodoh, atau bahkan dzalim. Maka adalah benar jika orang yang merasa mampu meminta atau berusaha untuk menjadi pemimpin, asalkan dengan niatan yang tulus demi Allah dan demi kesejahteraan umat.
Hal semacam ini juga dibenarkan oleh Allah SWT, bagi orang-orang yang berpredkat Ibadurrahman, sebagaimana dalam ayat 74 surat Al-Furqan yang berbunyi:

Dan orang orang yang berkata: "Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (Kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.

Hal yang tertera dalam ayat ini juga pernah dicontohkan oleh Nabi Yusuf as dan Nabi Ibrahim as, mereka pernah meminta kepada Allah untuk dijadikan sebagai pemimpin bagi orang-orang yang beriman.

No comments:

Powered by Blogger.