Mahalnya Sebuah Keikhlasan


Panas begitu menyengat, berkali-kali Ziah mengibas-ngibaskan kerudungnya entah karena kantor MI ini tidak ada pendinginnya hanya ada AC alias Angin Cendela atau memang hati Ziah lagi gusar benar hingga membuat ia makin gerah.
“Putus lagi” Gumamnya sambil mengelus - elus kasar Hp canggihnya yang ia beli pas cairan Fungsional yang pertama. Ziah kembali mendengus pasrah, karena seperti biasa mungkin untuk kesekian kalinya ia mengalami kegagalan cinta lagi alias patah hati lagi.Kali ini alasan pacarnya, terpaksa meninggalkan Ziah karena ia dijodohkan, tapi kebanyakan pria mencari sejuta alasan untuk meninggalkan pasangan, entah karena bosan atau memang telah ada perempuan lain masuk di kehidupannya yang lebih menarik lagi dari yang lama.

Memang dalam Islam tidak ada hukum yang memperbolehkan pacaran. Tapi bagi Ziah, dia butuh itu. Untuk menemukan pria idaman yang mampu menundukkan matanya. Tapi hasilnya Ziah malah larut dan akhirnya patah hati lagi dan lagi. Teman – teman sekantornya yang setengahnya masih melajang hanya bisa mensupport dengan gurauan – gurauan khas mereka yang makin membuat Ziah gerah.
“ Sudah…sama Pak Mif saja, ingat bulan delapan lho..” Seloroh Bu Aulia yang sepertinya mengerti apa yang Ziah rasakan meski beliau tak segera memandang Ziah, tapi begitu dia menatap Ziah dan mata mereka saling beradu Bu Aulia menebar senyum lebarnya berharap Ziah mengeluarkan reaksi seperti biasanya. Tapi Ziah hanya mendesah, menunduk tanpa ekspresi.
“ Lelaki nggak cuma satu, Bu. Seharusnya kita sebagai perempuan harus lebih kuat menghadapi segala resiko, Ibu berani menempuh jalan ini seharusnya Ibu juga siap menanggung pahit getirnya.”
Ziah hanya diam mendengar perkataan Bu Aulia, hatinya terlanjur remuk. Ziah berharap Haris adalah lelaki terakhir, dan dialah yang akan menjadi suaminya tapi mungkin takdir menyatakan lain, Ziah masih harus berusaha lagi.
Mungkin memang tabu kalau perempuan mencari sendiri jodohnya, tapi zaman sudah berbeda, banyak perempuan mencari dan memilih pasangan hidup sendiri dari pada menerima calon dari orang tua yang kebanyakan mereka masih menimbang calonnya itu menurut zaman mereka dulu. Sedangkan perempuan sekarang lebih bebas memperluas wawasan sehingga lebih tertarik dengan lelaki masa kini yang mengikuti perkembangan zaman. Itu juga menjadi alasan Ziah, karena dia telah trauma dengan perjodohannya dulu, makanya dia gencar memperbanyak mencari teman dan mencari tipe yang ia inginkan. Tapi begitu dapat, Ziah cocok, ziah larut dalam perasaan cintanya Ziah malah ditinggal pergi begitu saja dan selalu patah hati.
Semester ke dua berakhir, dan anak – anak masih terus semangat mengecat gelas  plastik bekas air minum kemasan dengan warna Merah Putih, maklum sebentar lagi Agustusan, meski panas kian membakar ubun – ubun, tapi anak – anak rela jongkok, menjemur hasil karyanya di halaman yang sama sekali tak teduh karena tanaman peneduh baru setinggi pohon padi. Yach… maklum, sekolah ini baru mengalami perpindahan di lahan baru. Baru tiga tahun ditempati tapi Alhamdulillah kelas sudah ada tujuh plus kantor jadi totalnya ada delapan ruang yang dimiliki MI ini dengan jumlah siswa hampir dua ratus. Berbagai prestasipun telah diraih hingga ke tingkat Provinsi, sungguh sebuah kebanggan untuk MI Swasta di tingkat pedesaan.
***
Sesa'at Ziah melupakan penatnya, senyumnya terus mengembang dengan sesekali tertawa gemas  melihat para murid yang sedang berlomba dalam acara class meeting, kali ini Ziah mencoba lebih legowo dan dewasa dalam menyikapi masalah rutinnya ini. Meski terkadang hatinya menjerit, nelangsa  kenapa ia tak bisa seperti yang lain segera dapat menemukan pasangan yang pas dan tak harus menjadi korban patah hati seperti ini. Meski baru ke tiga kali, tapi yang terakhir sungguh mampu membombardir hatinya hingga hancur. Dan sekarang Ziah benar-benar pasrah dengan kesendiriannya dan mengikhlaskan Haris yang pergi. Meski haris memiliki enam puluh persen kategori lelaki idamannya, sungguh sangat disayangkan.
" Gimana, Bu? Jadi jomblo beneran sekarang?" Goda Bu Yuli.
" Lusa kami akan ketemu lagi utuk mencari jalan keluarnya " Jawab Ziah
" Memangnya masih ada harapan? Seharusnya kalau dia beneran sayang, dia akan mempertahankan Bu Ziah dan menolak keras perjodohan itu."
Ziah menggeleng pelan seakan dia sendiri tak mengerti kenapa bisa serumit ini permasalahannya, dia masih butuh Haris . itu masalahnya kenapa Ziah masih berat dan merasa kecewa sekali dengan keadaan ini. Bu Yuli perlahan mengelus punggung Ziah, Ziah yang tadinya cukup tenang menjadi teringat kembali akan masa indahnya bersama Haris.
" Sudahlah, jika memang dia jodohnya Bu Ziah, dia pasti kembali. Tapi saran saya…Pak Mif mungkin cukup baik."
Hati Ziah terasa langsung begidik mendengar nama itu disebut, maklum Pak Mif yang tak lain guru swasta dari MI sebelah itu belakangan sering disebut oleh rekan sekantor Ziah, untuk bahan guyonan pada Ziah.
" Ingat bulan delapan lho……."  Lanjut Bu Yuli.
Ziah justru makin lemas, dua guru perempuan itu telah punya pasangan dan membuat kesepakatan menikah bersama bulan delapan, sedang Ziah tak kan bias turut Karena Ziah tak lagi memiliki pangeran karena pengeran itu akan menikah dengan orang lain.
Hampir semua rekan sekantor Ziah memang suka sekali mengeluarkan guyonan-guyonan dan ejekan lucu, tapi terkadang juga bikin geram. Namun semua itu sebenarnya adalah bentuk dari perhatian mereka untuk  memotivasi rekan yang lain agar bertindak lebih baik.
***
Siang itu Ziah merasa perutnya terasa kaku, jantung berpacu kencang perasaan bercampur aduk menunggu sms Haris. Udara dinginpun tak mau pergi, semakin lama makin membuat meriang.
Sms pun masuk, Ziah bergetar membuka sms itu.
Ku tunggu di tempat biasa, tapi ingat ini pertemuan terakhir!!!
Hati Ziah benar – benar remuk membaca sms itu, tubuhnya lemas dan serasa tak mau datang saja. Hati Ziah merintih…… sakit! Sakit benar rasanya! Haris seperti benar-benar tak membutuhkan dia lagi, padahal Ziah masih berharap kan ada kesempatan bersama lagi.
Dengan tenaga seadanya Ziah merapikan baju dan bergegas pergi menuju suatu tempat dimana mereka sering bertemu dulu.
Detak jantung Ziah tak hentinya berdegub kencang, beberapa kali Ziah menghela nafas untuk menenangkan diri tapi tetap saja tak tenang. Begitu sampai Ziah segera memparkir motornya, kembali ia menghela nafas panjang. Langkah kakinya perlahan seperti melayang demi menatap wajah seseorang yang benar-benar ia cintai, dan kenapa justru disaat Ziah telah benar-benar mencintai lelaki ini, lelaki ini pun pergi meninggalkannya. Sungguh ironis……
Ziah berhenti tepat di depan Haris yang menyambutnya dengan muka masam, melihat itu Ziah jadi lupa mengucap salam, Ziah mendesah lemas lalu duduk di depan Haris.
“Mau ngomong apa?, waktuku tak banyak.” Haris membuka obrolan dengan nada ketus, Ziah memejamkan matanya sebentar menahan emosi, tapi lidahnya jadi kelu ingin bicara tapi susah. Haris benar-benar berubah, ia seperti orang yang tak pernah mencintaiya, Ziah benar-benar merasa sakit, tertusuk sampai ke ulu hati. Haris lantas bersandar, merasa kesal karena Ziah terus saja diam.
“ Sebentar lagi aku menikah, dan aku sekarang hanya mencintai calonku jadi ma’af aku tak bisa memberi harapan lagi.” Lanjut Haris kemudian dan makin membuat Ziah tersudut. Sepertinya memang tak ada gunanya ia di situ dan tak ada gunanya mereka bertemu lagi.
Tapi Ziah tak mau tertunduk, dia berusaha setegar mungkin dan mencoba tersenyum meski tipis.
“ Dari awal sudah tahu keadaanku, lantas sekarang mau apa lagi?” Haris kembali menambahkan.
“ Aku ikhlas, Mas menikah dengan dia,pernah aku melarang dan marah ma mas atas keadaan ini? Pernah Mas berfikir bagaimana aku setelah ditinggal mas pergi?”
Haris terdiam, dan hanya menatap Ziah.
“ Aku hanya ingin melihat mas, untuk mengobati sisa rinduku akan mas, yang sebenarnya tak pernah ku inginkan tapi batin ini terus tersiksa karena ini”
Haris terdiam mendengar ucapan Ziah, batinnya terenyuh mendengar keluh Ziah.
“ Ya sudah…… sekarang kita sudah ketemu, ku harap mampu mengobati rindumu.”
Haris perlahan melunak dan tak lagi menunjukkan emosinya. Tapi Ziah terlanjur pedih hatinya. Dia merutuki diri sendiri kanapa dia ingin bertemu lagi kalau tau akan sesakit ini jadinya.
Saat pulang Ziah ingin menangis sejadi-jadinya tapi kenapa tak setetes air mata pun keluar dari ujung matanya dan dada yang tadinya ia rasakan seperti terikat kuat sekarang ia rasa tali-tali itu mengendur tak lagi mengikat dadanya. Berkali-kali Ziah mengucap tasbih, menghalau segala rasa yang bercampur aduk di dalam batinnya.
“ Inikah petujuk Mu yaa Allah… dia bukan yang terbaik untukku, inikah bentuk kasih sayang Mu ya Allah... dengan memisahkanku dengan dia…meski batin ini menjerit.” Gumam Ziah dalam hati.
Di tatanya benar-benar hati dan fikirannya agar sesampainya di rumah ibu tak melihat gurat suram sedikitpun di wajahnya.
Hari itu ibu memang tak menaruh curiga sedikitpun, tapi hari-hari berikutnya Ziah seperti orang bingung dan jika sendiri, Ziah sering melamun, dia seperti kehilangan pegangan.
“ Aku ini sebenarnya kenapa ?”. Gumam Ziah tak mengerti disela-sela lamunannya.
Adzan maghrib berkumandang, Ziah terhenyak. Lantas segera ia mengambil air wudlu, tetes-tetes bening itu membasuh tubuh Ziah dengan lembut, seperti mengambil kotoran-kotoran batin yang selama ini membelenggunya, inilah air suci dari tuhan yang mampu menghapus dosa dan menenangkan jiwa para muslim. Usai membaca do’a, Ziah menatap langit yang luas tak terkira.
“ Alam seluas ini kenapa aku masih saja berfikiran sempit, masih banyak hal yang harus ku lakukan dan masih jauh lebih bermanfa’at dari pada ini. Mungkin Allah memang masih belum mempercayaiku untuk menjalankan kewajibannya, menikah dan menurunkan keturanan yang sholih. Aku memang harus lebih bersabar, aku ingin membahagiakan semua orang lewat tulisanku, seperti pohon pisang yang tidak akan mati sebelum berbuah, kecuali takdir mengatakan lain”. Tutur Ziah dalam sunyinya.
Ziah mengambil nafas dalam, bibirnya tersenyum, ia masih tetap mendongak menatap langit, dipejamkan matanya sejenak merasakan angin meniupi butiran-butiran air wudlu di wajahnya.
“ Insya Allah, Allah akan selalu memberi jalan umatnya yang berusaha dan Allah akan selalu membimbing umatnya dalam kebaikan. Ibu yakin Allah telah melihat usahamu dan setelah ini jodoh terbaik yang kau idamkan akan segera datang. Bersabarlah!”
Ziah terhenyak dan segera menoleh ke belakang, dilihatnya ibu rupanya telah berdiri di belakangnya dengan senyum yang meneduhkan jiwa. Ucapan ibu benar-benar seperti turunnya hujan di tengah kemarau. Ziah menatap ibunya yang terus tersenyum, senyum yang menghangatkan. Ziah terus berucap syukur akan segala nikmat yang telah dilimpahkan Allah kepadanya.
Beberapa hari kemudian Haris menemui Ziah lagi di rumahnya. Ziah duduk terdiam di depan Haris, kali ini Haris tak searogan kemarin, tatapnya lembut meski wajahnya kusut.
“ Aku minta ma’af, dik. Telah menyakiti hati adik. Tak sepatutnya aku berkata sekasar itu. Dari awal akupun tak pernah setuju dengan adanya perjodohan ini. Tapi mau bagaimana lagi, ini amanah dan aku harus melaksanakannya. Bulan delapan ini aku akan menikah, tapi aku harap dan jika adik mau tali silaturahmi ini tidak terputus.”
Ziah diam mendengar ucapan Haris, luka lamanya terbuka lagi, ulu hati Ziah kembali terasa ngilu. Ditatapnya Haris nanar, mungkin besok-besok  ia tak lagi dapat melihat sosok Haris yang ia sayangi dulu, tapi seorang suami dari perempuan lain.
Ziah berusaha sebijak mungkin meski hatinya masih bergejolak dan tak mampu dipungkiri lagi bahwa sebenarnya ia masih sayang Haris.
“ Sayangi dia mas, tunaikan kewajibanmu sebagai seorang suami, aku tidak apa-apa”. Ucap Ziah hati-hati. Haris menghela nafas panjang.
“ baiklah, kita jalani hidup kita masing-masing, mungkin ini memang yang terbaik”. Putus Haris kemudian, lantas ia pun pamit. Tak berkedip Ziah menatap Haris berlalu dari halaman dengan motornya
“ Kenapa mas tak pernah memperjuangkan ku…? Tapi aku cukup bahagia mas, karena pernah merasa memiliki mu, dan aku bahagia jadi orang terakhir buatmu meski tak pernah bisa aku memiliki mu selamanya. Berbahagialah mas, aku kan selalu berdo’a utuk mu meski ku harus bertaruh ikhlas di atas cintaku....” Ucap Ziah dalam hati. Butir air mata beningpun menetes dari sudut mata kanannya, meski cuma setetes tapi butir bening itu adalah bukti kesedihan dan kelemahannya. Sekuat apapun dia, tapi ia tetaplah seorang perempuan.
Bulan delapan yang seharusnya jadi pesta Ziah dan teman-teman, ternyata harus menyisakan sebuah kesedihan, dan Ziah musti harus menata hatinya untuk menghadapi indahnya pernikahan Haris, tapi dengan adanya semua ini Ziah jadi mengerti dan terbuka fikirannya, cinta datang dari Allah seharusnya ia mencintai seseorang karena Alloh pula, dengan begitu ia tak kan lagi lupa diri dan dibutakan oleh cinta. Dan Ziah pun selalu yakin, di luar sana Allah telah menyiapkan jodoh terbaik untuknya. Semoga….........
( True Story Of Fauziah ).


Oleh : IVA NURHIDAYAH
MI NURIS WULUHAN

No comments:

Powered by Blogger.