Mengawasi Penggunaan Waktu Belajar Anak di Rumah

Pengawasan Waktu Belajar
Pendidikan adalah masalah yang sangat penting. Hal ini nampak adanya sekolah dimana-mana baik sekolah dasar, SMP, maupun SLTA serta ditunjang dengan adanya kursus-kursus, diharapkan pendidikan itu sebagai satu-satunya jalan yang terbaik untuk menentukan karier anak dimasa depan. Masalah yang sering muncul dalam pendidikan adalah masalah tentang pengaturan waktu belajar.
Orang tua mempunyai tanggung jawab penuh dalam pengawasan waktu belajar dan memberikan petunjuk pembagian waktu belajar anak di rumah. Para orang tua perlu mengawasi penggunaan waktu belajar anak dirumah, dengan begitu orang tua mengetahui apakah ankanya menggunakan waktu belajar dengan baik. Menurut Walgito (1976;21) bahwa "Orang tua perlu sekali mengadakan kontrol terhadap kegiatan anak-anaknya terutama anak remaja". Kontrol ini dilakukan oleh orang tua untuk mengawasi kegiatan anak di luar sekolah terutama kegiatan belajar di rumah, karena tanpa adanya kontrol dan pengawasan dari orang tua terhadap anaknya itu bertujuan mengendalikan anak kearah yang lebih baik. Hal ini akan meningkatkan penggunaan waktu belajar di rumah dengan melatih anak untuk bisa lebih tertib dalam belajar.
Uralan diatas menunjukkan pentingnya pengawasan orang tua terhadap penggunaan waktu belajar anak dirumah. Tujuan dari pengawasan itu adalah agar anak mempunyai disiplin pada dirinya untuk belajar guna mencapai prestasi yang setinggi-tingginya

Lama Waktu Belajar

Waktu belajar yang digunakan siswa atau cara pengaturan waktu belajar yang baik dan tepat sesuai dengan situasi dirinya sering diabaikan. Maka keadaan yang semacam ini sangat merugikan jika dibiarkan terus berlangsung dalam proses belajar, waktu itu perlu adanya bimbingan. Waktu dalam belajar perlu disediakan khusus untuk lebih efisien dalam pencapaian target belajar, hal ini perlu adanya dorongan atau pengawasan. Pengawasan ini bisa dilakukan oleh orang tua di rumah pada waktu anak belajar.
Menurut Sukardi (1998;60) "Belajar secara teratur setiap hari dan tidak mengesampingkan waktu istirahat semestinya. Dengan belajar yang disiplin dan teratur niscaya akan dapat meningkatkan prestasi belajarnya". Siswa dituntut untuk pandai-pandai mengatur waktu; untuk belajar, olah raga, untuk pekerjaan-pekerjaan lain dan sebagainya. Keteraturan belajar adalah pangkal utama dari belajar yang baik. Untuk itu disiplin pribadi yang tinggi ia dapat menjauhi godaan dan gangguan-­gangguan yang mendorong malas belajar, ogah-ogahan dan menunda-nunda studi. Sekaligus membentuk dan mendidik diri berwatak dan bermental yang baik serta berkepribadian yang luhur.
Dicontohkan oleh Liang Gie (1988;10) bahwa belajar dalam sehari mendapat prioritas yang lebih banyak. Penggolongan waktu itu sebagai berikut :
Tidur setiap harinya : 8 Jam
Makan, mandi dan senam : 3 Jam
Urusan pribadi (misalnya bermain rekreasi) : 2 Jam
Sisanya untuk belajar : 11 Jam
Dari contoh diatas belajar mendapat prioritas yang banyak dari pada yang lain, ini menunjukkan bahwa belajar sangat penting untuk kehidupan anak dimasa sekarang dan dimasa akan datang. Belajar 11 jam terbagi dalam dua kategori yaitu belajar di rumah dan belajar di sekolah.
Dari pendapat diatas, penggunaan waktu belajar anak yang dilakukan oleh orang tua adalah bertujuan untuk melatih kedisiplinan anak guna terciptanya pencapaian target dalam belajar yaitu prestasi yang setinggi-setingginya. Sebab anak kadang-kadang lupa terhadap kewajibannya dalam belajar dengan berbuat teratur setiap hari yang disertai dengan minat, rencana, disiplin dan tujuan yang jelas tanpa harus mengabaikan atau mengesampingkan waktu istirahat yang semestinya lebih mudah dalam penyerapan materi pelajaran dari pada belajar yang dilakukan secara mendadak.

Bantuan Belajar dan Motivasi Belajar
Penguasaan bahan-bahan pelajaran atau materi yang diberikan oleh seorang guru tidaklah mudah, penguasaan itu tergantung dari daya serap siswa. Apabila daya serap, perhatian dan minat terhadap materi pelajaran baik, maka akan mengarah dalam keberhasilan dalam belajarnya. Akan tetapi jika itu semuanya tidak ada maka akan timbul kesulitan dalam menguasai pelajaran. Kesulitan dalam penguasaan materi atau bahan-bahan pelajaran dapat mengakibatkan keputus-asaan dan malas untuk mempelajari, mengulang atau belajar kembali.
Peran orang tua untuk membimbing anaknya agar tidak putus asa atau malas belajar adalah dengan membimbing atau memperhatikan aktifitas belajar anak di rumah. Nio mengatakan "Dengan membimbing dan memperhatikan aktifitas belajar maka orang tua akan mengenal kesulitan-kesulitan belajar anaknya, karena dengan mengenal kesulitan belajar anak tersebut dapat membantu usaha untuk mengatasi kesulitan dalam belajar". (1987:92).
Orang tua wajib dengan keikutsertaannya dalam membantu mengatasi permasalahan yang dihadapi anak, maka anak akan merasa diperhatikan dan mendapat bimbingan. Perhatian dan bimbingan ini jangan menjadikan orang tua mendidik anak dengan cara memanjakannya karena orang tua yang terlalu kasihan terhadap anaknya, tak sampai hati memaksa anaknya untuk belajar, bahkan dibiarkan saja anaknya tidak belajar dengan alasan segan adalah tidak benar, karena jika hal itu dibiarkan berlarut-larut anak menjadi nakal, berbuat seenaknya saja pastilah belajarnya menjadi kacau. Mendidik anak dengan cara memperlakukannya dengan terlalu keras, memaksa dan mengajar anaknya untuk belajar adalah cara mendidik anak yang juga salah, anak akan merasa tertekan, ketakutan dan ganguan jiwa yang lain, maka bimbingan dari perhatian orang tua harus mempunyai proporsi yang sesuai sehingga dapat menumbuhkan rasa percaya diri dan semangat belajar tumbuh dalam diri anak. Hal inilah yang akan berpengaruh terhadap prestasi belajar anak.
Orang tua dalam peranananya untuk perkembangan anak, setelah mengetahui kesulitan-kesulitan yang dihadapi oleh anak, maka orang tua harus berusaha untuk membantu mengatasi kesulitan yang dihadapi oleh oleh putra-putrinya. Orang tua untuk bisa mengatasi kesulitan putra-putrinya harus menpunyai kedekatan dengan mereka, sehingga dengan kedekatan itu putra-putrinya dapat merasakan perhatian dan bimbingan dari orang tua.
Anak sebagai peserta didik juga mempunyai dorongan sendiri untuk mengatasi kesulitan belajarnya sendiri, namun anak juga menrpunyai keterbatasan sehingga menyebabkan tidak selalu berhasil mengatasi kesulitannya sendiri. Ahmadi dan Rohani (1991;60) menyatakan bahwa "Untuk mengatasi segala kesulitan itu peranan orang tua atau guru sebagai pembimbing sangat diperlukan untuk memecahkan kesulitan-kesulitannya dengan memanfaatkan dorongan yang ada pada diri anak yang bersangkutan". Juga Nio dalam Kartono (1985:92) menyatakan bahwa "Usaha untuk mengatasi itu dilakukan oleh orang tua untuk menolong anaknya agar berhasil dalam proses belajarnya".
Pertolongan yang dilakukan oleh orang tua dalam proses belajar putra-­putrinya akan menimbulkan motivasi yang besar belajarnya. Hal ini yang akan menjadikan anak berhasil dalam mencapai prestasi belajar yang ingin dicapai yaitu prestasi yang setinggi-tingginya.
Dan pendapat diatas tentang membantu mengatasi problem belajar dan motivasi belajar, bimbingan orang tua dalam belajar anak sangat berpengaruh terhadap prestasi belajar. Pengawasan orang tua dalam belajar anak dirumah menyebabkan anak dapat belajar dengan penuh kedisiplinan. Orang tua tidak harus membiarkan anaknya atau memanjakannya bahkan merasa bahkan merasa kasihan untuk belajar karena hal ini bertujuan untuk menjadikan untuk anak mempunyai wawasan yang berguna bagi kehidupannya dimasa yang akan datang.

Penyediaan Alat-alat Belajar
Orang tua mempunyai dorongan dari hati nurani yang terdalam dan bersifat kodrati untuk mendidik anaknya baik dalam segi fisik, sosial, emosi, maupun intelegensinya agar memperoleh keselamatan, kepandaian, agar mendapat kebahagian hidup yang dl idam-idamkan, sehingga ada tanggung jawab moral atas hadimya anak tersebut yang diberikan Tuhan Yang Maha Kuasa untuk dapat dipelihara dan di didik dengan sebaik-baiknya. Dorongan itulah yang menyebabkan orang tua berusaha sebaik mungkin untuk memberikan sesuatu yang dibutuhkan oleh anak-anaknya dalam belajar.
Menurut Al-Farasany dan Naif (1992;6) "Sebelum belajar lebih dahulu seorang siswa yang perlu mempersiapkan atat-alat yang dibutuhkan dalam studi selengkapnya. Kalau alat-alat itu lengkap maka belajarnya pun dapat berjalan dengan lancar tanpa gangguan". Alat-alat belajar seperti buku-buku, pensil, penggaris dan lainnya merupakan sarana yang dapat menunjang keberhasilan dalam belajar.
Alat-alat itu tergantung pada kebutuhan dan keperluan masing-masing seperti :
- Buku-buku; buku pelajaran, buku catatan dan lain-lainnya yang ada hubungannya dengan pelajaran.
- Alat-alat tulis;Vulpen/bolpoint hitam atau biru, penggaris, busur, jangka, penghapus pensil dan lain-lain. (Al-Falasany dan Nait, 1992: 6).
Orang tua dalam peranannya untuk membimbing anak untuk belajar harus mengupayakan menyediakan alat-alat belajar yang dibutuhkan oleh anak. Anak akan lebih mudah dalam belajarnya jika buku-buku yang dia butuhkan tersedia demikian juga alat-alat yang lain.
(HERU)

No comments:

Powered by Blogger.