Pembelajaran Kooperatif Model Jigsaw

#
Terdapat berbagai faktor yang mempengaruhi proses pendidikan, salah satunya adalah proses pengajaran adalah kegiatan belajar para peserta didik. Tinggi rendahnya kadar kegiatan belajar banyak dipengaruhi oleh pendekatan mengajar yamg digunakan guru. Oelh sebab itu, pendekatan belajar yang baik hendaknya melibatkan peserta didik untuk aktif dalam kegiatan pembelajaran. Pembelajaran merupakan suatu kegiatan yang tidak dapat dipisahkan dari pelaksanaan pendidikan. Menurut Mappa dan Balesman (1994:188) menyatakan bahwa pembelajaran merupakan upaya sistematik untuk membantu peserta didik melakukan kegiatan belajar agar mereka mampu mengubah, mengembangkan, serta mengendalikan sikap dan perilakunya sampai batas yang maksimal. Marks, dkk (1998:3) menyatakan bahwa matematika memiliki peran yang sangat penting dalam mempersiapkan bekal siswa dalam menghadapi zaman teknologi. Maka dari itu, pembelajaran matematika dalam dunia pendidikan memiliki kedudukan yang vital. Hal ini terbukti dengan diberikannya materi matematika di semua jenjang pendidikan, baik dasar , menengah, maupun perguruan tinggi. Adapun tujuan umum diberikannya matematika di jenjang pendidikan dasar dan pendidikan umum yang tercantum dalam Garis-Garis Besar program Pengajaran (GBPP) adalah : - Mempersiapkan siswa agar sanggup menghadapi perubahan keadaan di dalam kehidupan dan dunia yang selalu berkembang melalui latihan bertindak atas dasar pemikiran secara logis, rasional, kritis, cermat, jujur, efektif dan efesien. - Mempersiapkan siswa agar dapat menggunakan matematika dan pola pikir matematika dalam kehidupan sehari-hari dan dalam mempelajari berbagai ilmu pengetahuan (Soedjadi, 2004 : 43). Guru mencapai tujuan yang diharapkan, proses pembelajaran matematika harus memperhatikan interaksi edukatif anatar guru dan siswa, siswa dengan siswa, maupun siswa dengan lingkungannya. Menghindari kegiatan belajar mengejar yang bersifat monoton dan membosankan bagi peserta didik, maka metode pembelajaran sangat berperan. Syarat pemilihan metode harus disesuaikan dengan kondisi yang ada di suatu tempat agar tercipta suasana yang komutatif, interaktif, dan kondusif dalam proses pembelajaran. Hal ini sesuai dengan pendapat Nasution (1989 : 54 ) bahwa dalam proses pembelajaran guru harus menggunakan metode yang tepat supaya proses pembelajaran dapat berjalan efektif. Selain itu, guru juga harus mamp[u menciptakan situasi yang membuat siswa senang dalam pembelajaran, sehingga hasil belajar siswa meningkat. Upaya mengembangkan potensi siswa dalam pembelajaran saat ini khususnya pada mata pelajaran matematika adalah dengan metode pembelajaran kooperatif (Cooperative Learning). Pembelajaran kooperatif adalah sistem pembelajaran yang memberi kesempatan kepada anak didik untuk bekerja sama dengan sesama siswa dalam tugas-tugas yang terstruktur (Lie, 2002 : 12). Model pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk memberikan tanggung jawab kepada siswa tentang keberhasilan kelompoknya dan juga membantu teman lainnya untuk sukses bersama. Dalam pembelajaran kooperatif keberhasilan individu tetap di akui, tetapi yang di harapkan siswa yang pandai membantu teman yang lain. Slavin, dalam Khansya (2003 : 8) menyatakan bahwa pembelajaran kooperatif dibedakan menjadi 8 model pembelajaran, yaitu : 1) Student Team Achivement Devision (STAD), 2) Team Assisted Individualization (TAI), 3) Cooperative Integrated and Composition (CIRI), 4) Jigsaw, 5) Group Investigation, 6) Learning Together, 7) Complek Intruction, 8) Stuctured Dyadic Methods. Penelitian ini menggunakan metode pembelajaran kooperatif Model Jigsaw,dengan pertimbangan bahwa model pembelajaran ini masih belum meluas penggunaannya di dunia pendidikan. Khususnya untuk bidang studi matematika, karena banyak guru yang beranggapan bahwa dalam pembelajaran kooperatif, penilaian kurang adil dan memerluklan banyak waktu belajar sehingga proses pembelajaran tidak efisien. Selain itu, pembelajaran kooperatif Model Jigsaw dapat melatih siswa untuk lebih aktif, lebih berani mengemukakan pendapat dan bertanggung jawab serta bekerja sama. Dengan kondisi kelas yang demikian akan menumbuhkan semangat siswa dalam belajar, sehingga akan mempengaruhi hasil belajar yang akan dicapai siswa. pembelajaran kooperatif Model Jigsaw pertama kali dirancang oleh Elliot Aronson, dan kawan-kawan dari Universitas Texas, kemudian di adaptasi oleh Slavin dan kawan-kawannya (Ibrahim et all, 2000 : 21). Model ini dirancang untuk memotivasi siswa dalam mempelajari bahan sebaik mungkin dan bekerja keras di dalam kelompok asal dan kelompok ahli. Kelompok asal adalah kelompok yang telah di bentuk oleh guru pada awal pembelajaran, sedangkan kelompok ahli adalah kelompok yang beranggotakan wakil-wakil dari kelompok asal yang mempunyai tugas untuk mempelajari materi yang sama. Model pembelajaran ini memberikan tanggung jawab yang besar pada peserta didik lainnya. Selain itu, pembelajaran kooperatif Model Jigsaw melatih siswa untuk gotong royong.

No comments:

Powered by Blogger.