Selamat Jalan Guru Bangsa

Di penghujung tahun 2009 langit negeri kita tidak hanya gelap karena akan hujan, tapi juga karena tiba-tiba berduka dengan wafatnya Gus Dur. Seluruh anak negeri, tanpa kecuali, berduka dengan kepergian Gus Dur.
Betapa tidak, karena ia adalah tokoh karismatik dan prismatik, Ia tidak hanya ditokohkan oleh kelompok tertentu. Ia adalah tokoh lintas-kelompok, lintas-etnis dan lintas-agama.Gus Dur adalah pejuang demokrasi negeri ini, yang sekaligus adalah tokoh pemersatu. Baik ketika berkedudukan sebagai ketua NU, ketua Forum Demokrasi, sampai menjadi presiden, Gus Dur tidak pernah lelalh memperjuangkan demokrasi dan persatuan di negeri kita, yang penduduknya amat majemuk.Kendati telah didera oleh bermacam penyakit, Gus Dur tidak pernah menunjukkan kelelahan berjuang untuk bangsa. Ia terus melontarkan pikiran-pikiran besarnya, yang ada kalanya dikemukan dengan balutan humor dan ungkapan ceplas-ceplos.
Gus Dur tidak pernah hirau dengan penyakitnya sendiri dalam berjuang untuk bangsa. Itulah sebenarnya karakteristik seorang pemimpin yang dibutuhkan bangsa ini, yaitu pemimpin yang tidak mengutamakan memikirkan dirinya sendiri.
Sepintas lalu Gus Dur seringkali memang tampak nyeleneh dengan pernyataan-pernyataannya. Itu tidak lain karena dalam melihat masalah, Gus Dur menggunakan pertimbangan-pertimbangan yang tidak dipikirkan oleh orang lain.
Ia memikirkan sesuatu yang kadang tak terpikirkan oleh orang lain. Ia adakalanya "melihat" apa yang tak terlihat oleh orang lain. Orang baru menyadari apa yang dikemukakannya setelah berselang waktu yang lama, ternyata sinyalemennya benar adanya.
Kepergian Gus Dur, kembali ke hadirat ilahi, sungguh merupakan kehilangan besar bagi bangsa Di penghujung tahun 2009 langit negeri kita tidak hanya gelap karena akan hujan, tapi juga karena tiba-tiba berduka dengan wafatnya Gus Dur. Seluruh anak negeri, tanpa kecuali, berduka dengan kepergian Gus Dur.
Betapa tidak, karena ia adalah tokoh karismatik dan prismatik, Ia tidak hanya ditokohkan oleh kelompok tertentu. Ia adalah tokoh lintas-kelompok, lintas-etnis dan lintas-agama.Gus Dur adalah pejuang demokrasi negeri ini, yang sekaligus adalah tokoh pemersatu. Baik ketika berkedudukan sebagai ketua NU, ketua Forum Demokrasi, sampai menjadi presiden, Gus Dur tidak pernah lelalh memperjuangkan demokrasi dan persatuan di negeri kita, yang penduduknya amat majemuk.Kendati telah didera oleh bermacam penyakit, Gus Dur tidak pernah menunjukkan kelelahan berjuang untuk bangsa. Ia terus melontarkan pikiran-pikiran besarnya, yang ada kalanya dikemukan dengan balutan humor dan ungkapan ceplas-ceplos.
Gus Dur tidak pernah hirau dengan penyakitnya sendiri dalam berjuang untuk bangsa. Itulah sebenarnya karakteristik seorang pemimpin yang dibutuhkan bangsa ini, yaitu pemimpin yang tidak mengutamakan memikirkan dirinya sendiri.Sepintas lalu Gus Dur seringkali memang tampak nyeleneh dengan pernyataan-pernyataannya. Itu tidak lain karena dalam melihat masalah, Gus Dur menggunakan pertimbangan-pertimbangan yang tidak dipikirkan oleh orang lain.
Ia memikirkan sesuatu yang kadang tak terpikirkan oleh orang lain. Ia adakalanya "melihat" apa yang tak terlihat oleh orang lain. Orang baru menyadari apa yang dikemukakannya setelah berselang waktu yang lama, ternyata sinyalemennya benar adanya.
Kepergian Gus Dur, kembali ke hadirat ilahi, sungguh merupakan kehilangan besar bagi bangsdanya., sungguh merupakan kehilangan besar ini. Telah pergi seorang guru bangsa yang menjadi harapan semua kalangan. Telah pergi seorang dimana rakyat kecil silih-berganti datang mengelukan masalahnya.
Telah kembali ke hadirat ilahi, tempat orang bertanya dikala bangsanya dilanda hingar-bingar pertengkaran. Telah berpulang tokoh karismatik yang tidak pernah berhenti menyuarakan hak-hak orang kecil yang dilanggar dan hak minoritas yang dipinggirkan. Kepergiannya meninggalkan duka yang dalam dan diiringi doa tulus agar ia diterima dengan kasish di sisi Tuhan.
Gus Dur bukan hanya tokoh bangsa ini, tapi ia juga adalah tokoh dunia yang disegani. Tidak kurang 8 universitas dunia dengan reputasi tinggi pernah memberinya gelar doktor honoris causa.
Karena itu kepergian Gus Dur bukan hanya kehilangan bagi bangsa Indonesia, tapi kehilangan bagi dunia. Selamat jalan Gus Dur. Ungkapanmu, 'gitu aja kok repot' terus terngiang. Itu menjadi hiburan tersendiri bagi bangsamu yang masih banyak dirundung masalah sepeninggalmu.
(http://www.fajar.co.id)

No comments:

Powered by Blogger.